Sabtu, 29 Maret 2014

KAUM DIFABEL

Tulisan - Softskill - Bahasa Indonesia 2

Nama : Yayuk Lestari
Kelas : 3EA14
NPM : 17211500


Pada tulisan kali ini saya akan menulis tentang Kaum Difabel (Penyandang cacat) dan bagaimana mereka dipandang dalam masyarakat.

Sumber Gambar : Google.com

Difabel atau disabilitas adalah kata lain dari penyandang cacat. Para difabel memang memiliki kekurangan fisik, namun mendengar banyaknya kaum difabel ini mendapat perlakuan yang berbeda di masyarakat memang sungguh ironi dan saya pun merasa sedih apabila mendengar para difabel ini diperlakukan tidak baik oleh orang-orang di sekitarnya bahkan keluarganya.

Umumnya masyarakat menjauhi kaum difabel ini dari kehidupan mereka. Kebanyakan orang beralasan, karena mereka tidak ingin mendapatkan efek negatif dari kemunculan kaum difabel ini dalam kehidupan mereka seperti aib, dikucilkan dalam pergaulan, menganggap keberdaan mereka merupakan sesuatu yang merepotkan, serta permasalahan lainnya. Sungguh ironis bukan ?

Kita sebagai orang yang normal dan memiliki akal sehat seharusnya memperlakukan kaum difabel dengan baik bukannya malah mengucilkan atau justru menghina kekurangan mereka. Karena setiap manusia pasti memiliki kekurangan termasuk kita yang terlihat normal sekalipun.

Ada saja seorang difabel yang bukan hanya dijauhi oleh masyarakat, bahkan ada pula keluarga yang tega dan yang sengaja mengirim mereka ke tempat panti sosial karena tidak mau menanggung malu memiliki keluarga sebagai penyandang cacat. Memilukan sekali memang. Keluarga yang seharusnya memberi support dan dorongan untuk bangkit, ini justru malah sengaja "membuang" mereka dengan alasan "malu" yang sangat tidak dapat diterima.

Para kaum difabel seharusnya mendapatkan perhatian lebih terutama orang terdekat yang seharusnya memberi dukungan moril agar mereka dapat menjalani hidup dengan ikhlas walaupun banyak orang yang tidak mengharapkan kehadiran mereka.
Padahal pemerintah sudah berupaya melindungi kehidupan para kaum difabel ini dengan membuat undang-undang. Seperti UUD 1945, No.4 Tahun 1997 Tentang penyandang cacat.
Dengan adanya undang-undang tersebut, diharapkan para kaum difabel ini dapat turut aktif berpartisipasi dan mengembangkan potensi dalam bidang pendidikan, pekerjaan, kesehatan, kesejahteraan sosial, dan bidang lainnya tanpa dibeda-bedakan.
Meskipun sudah jelas pemerintah menetapkan beberapa peraturan perundang-undangan yang melindungi hak-hak kaum difabel ini, tetapi pada praktiknya hal ini tidak berjalan sebagai mana mestinya. Banyak terjadi pelanggaran terhadap kaum difabel terutama pada bidang pendidikan dan pekerjaan.

Marilah kita sebagai orang yang memiliki akal sehat, senantiasa memperlakukan para kaum difabel ini dengan tidak memandang dengan sebelah mata. Kita harus memperlakukan mereka seperti kita memperlakukan orang normal lainnya. Tidak perlu membeda-bedakan, justru mereka berbeda karena mereka sangat spesial. Dimata Tuhan Yang Maha Esa kita semua adalah sama .



Masa kecil kuhabiskan untuk mencari uang ..

Tulisan - Softskill - Bahasa Indonesia 2
Nama : Yayuk Lestari
Npm   : 17211500
Kelas  : 3EA14
Sumber Gambar : Google.com


Pengamen jalanan,
Dapat kita jumpai di persimpangan lampu merah, angkutan umum, ataupun pinggir jalan. Dari usia anak-anak, remaja, dewasa, nenek-nenek/kakek-kakek bahkan balita/bayi. Maraknya pengamen jalanan cilik di Jakarta seperti sekarang ini semakin memprihatinkan saja. Bagaimana tidak, hampir disetiap jalanan di Jakarta pengamen-pengamen cilik ini dapat kita jumpai dengan mudahnya. Padahal seharusnya, anak seusia mereka itu sedang merasakan hak untuk sekolah dan bermain bersama teman sebayanya. Bukan mencari uang dengan mengamen ataupun mengemis. Kemanakah orang tua yang seharusnya bertanggung jawab atas pengamen-pengamen cilik ini ? Mengapa anak-anak ini harus kehilangan hak yang seharusnya mereka dapatkan ?

Sungguh ironis memang. Seringkali, pengamen-pengamen cilik ini mungkin iri melihat teman sebayanya dapat bersekolah dan bermain. Namun "mereka" ? di usia mereka yang masih belia ini justru harus membanting tulang mencari 'recehan' untuk sesuap nasi atau mungkin bahkan untuk menghidupi keluarga.
Banyak sekali orang tua yang apabila ditanya "mengapa anda membiarkan anak anda mencari uang padahal masih dibawah umur?" lalu mereka menjawab : "ya gimana lagi mbak? faktor ekonomi, penghasilan suami kadang ga cukup. Yaa terpaksa nyuruh anak turun ke jalanan buat ngamen".
Kerasnya jalanan di Jakarta tidak membuat para orang tua pengamen- pengamen cilik ini takut akan bahaya yang mungkin saja bisa terjadi menimpa anaknya. Usia mereka yang masih kecil dan lemah dapat dengan mudah saja menjadi korban tindak kejahatan. Persaingan antar pengamen juga dapat terjadi. Melihat fenomena pengamen-pengamen cilik ini memang sungguh sebuah pukulan untuk kita dan khususnnya para pemerintah untuk lebih memperhatikan supaya tidak ada lagi pengamen-pengamen cilik seperti sekarang ini. Pemerintah juga harus memberikan hak kepada anak-anak ini untuk mengenyam pendidikan yang layak agar mereka memiliki pengalaman tentang pendidikan dan betapa pentingnya pendidikan itu bagi masa depan mereka.
Semoga pemerintah dapat bertindak adil dan lebih memperhatikan fenomena ini, sehingga nantinya negara kita dapat bebas dari anak-anak yang menghabiskan masa kecilnya di "jalanan". 




Jumat, 14 Maret 2014

Softskill Bahasa Indonesia 2 - Mengenal kebudayaan negara sakura Jepang

NAMA : YAYUK LESTARI 
NPM : 17211500
KELAS : 3EA14

Dalam tulisan ini saya akan menjelaskan tentang kebudayaan negara sakura Jepang. Mungkin sebagian besar orang banyak yang sudah mengenal negara ini, akan tetapi saya akan menjelaskan tentang kebudayaan tradisional dan modern negara ini.

Sepanjang sejarahnya, Jepang telah menyerap banyak gagasan dari negara-negara lain termasuk teknologi, adat-istiadat, dan bentuk-bentuk pengungkapan kebudayaan. Jepang telah mengembangkan budayanya yang unik sambil mengintegrasikan masukan-masukan dari luar itu. Gaya hidup orang Jepang juga merupakan perpaduan budaya tradisional di bawah pengaruh Asia dan budaya modern Barat. Jepang juga memiliki banyak pertunjukan kesenian tradisionalnya.


Kebudayaan Tradisional 

Kesenian tradisional yang masih berjaya di Jepang sampai saat ini adalah kabuki, noh, dan bunraku

1. Kabuki












Adalah sebuah bentuk teater klasik yang mengalami evolusi pada awal abad ke-17. Ciri khasnya berupa irama kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh para aktor, kostum yang super-mewah, make-up yang mencolok (kumadori), serta penggunaan peralatan mekanis untuk mencapai efek-efek khusus di panggung. Make-up menonjolkan sifat dan suasana hati tokoh yang dibawakan aktor. Kebanyakan lakon mengambil tema masa abad pertengahan atau zaman Edo, dan semua aktor, sekalipun yang memainkan peranan sebagai wanita, adalah pria.


2. Noh 









Adalah bentuk teater musikal yang tertua di Jepang. Penceritaan tidak hanya dilakukan dengan dialog tapi juga dengan utai (nyanyian), hayashi (iringan musik), dan tari-tarian. Ciri khas lainnya adalah sang aktor utama yang berpakaian kostum sutera bersulam warna-warni, dan mengenakan topeng kayu berlapis lacquer. Topeng-topeng itu menggambarkan tokoh-tokoh seperti orang yang sudah tua, wanita muda atau tua, dewa, hantu, dan anak laki-laki.

3. Bunraku 
 








Populer sekitar akhir abad ke-16, merupakan jenis teater boneka yang dimainkan dengan iringan nyanyian bercerita dan musik yang dimainkan dengan shamisen (alat musik petik berdawai tiga). Bunraku dikenal sebagai salah satu bentuk teater boneka yang paling halus di dunia.

4. Ikebana (Seni Merangkai Bunga Jepang)


Mengalami evolusi di Jepang selama tujuh abad, berasal dari sajian bunga Budhis di masa awalnya. Seni ini berbeda dengan penggunaan bunga yang murni bersifat dekoratif saja, karena setiap unsur dari sebuah karya ikebana dipilih secara sangat cermat termasuk bahan tanaman, wadah di mana ranting dan bunga akan ditempatkan, serta keterkaitan ranting-ranting dengan wadahnya dan ruang di sekitarnya.

Berbagai seni tradisional lainnya, seperti upacara minum teh dan ikebana (merangkai bunga), terus hidup sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang. Upacara minum teh (sado atau chado) adalah tata-cara yang diatur sangat halus dan teliti untuk menghidangkan dan minum teh hijau matcha (dalam bentuk bubuk). Ada hal yang lebih penting daripada ritual membuat dan menyajikan teh, karena upacara ini merupakan rangkaian seni yang mendalam yang membutuhkan pengetahuan yang luas dan kepekaan yang sangat halus. Sado juga menjajaki tujuan hidup dan mendorong timbulnya apresiasi terhadap alam.


Kebudayaan Modern

Musik klasik masuk ke Jepang dari Barat. Penggemarnya cukup banyak dan sejumlah konser diadakan di berbagai tempat di Jepang. Jepang telah melahirkan banyak konduktor (seperti Ozawa Seiji), pianis, dan pemain biola dan mereka melakukan pertunjukan di seluruh dunia.

Sejak Kurosawa Akira memenangkan Golden Lion Award di Festival Film Venice pada tahun 1951, dunia perfilman Jepang menjadi pusat perhatian dunia, dan karya-karya dari sutradara besar seperti Mizoguchi Kenji dan Ozu Yasujiro mendapat sambutan luas. Pada tahun-tahun terakhir ini, Kitano Takeshi memenangkan Golden Lion Award pada Festival Film Venice 1997 dengan karyanya HANA-BI dan meraih penghargaan sebagai sutradara terbaik pada festival tahun 2003 dengan karyanya Zatoichi.

Film anime (kartun) 








Hiburan bagi anak-anak Jepang sejak tahun 1960-an, kini diekspor ke seluruh dunia. Ada seri yang menjadi favorit anak-anak seluruh dunia, seperti Astro Boy, Doraemon, Sailor Moon, Detective Conan, dan Dragonball Z. Sementara itu, karya sutradara Miyazaki Hayao, Spirited Away, memenangkan Oscar sebagai film cerita kartun terbaik pada tahun 2003.

Sumber : http://beritaartikeljepang.blogspot.com/2009/10/kebudayaan-jepang.html